Resmi Dipugar Tahap II, Candi Mendut Ditutup Sementara Satu Tahun

Foto: nadhifa4wartamagelang.com

Doa bersama yang dihadiri oleh perwakilan Museum dan Cagar Budaya (MCB), Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X, aparat keamanan, tokoh masyarakat, hingga perwakilan pedagang setempat, pada Jumat (7/8/2026). Foto: nadhifa4wartamagelang.com

MAGELANG (wartamagelang.com) — Penutupan sementara Candi Mendut resmi diberlakukan selama satu tahun, terhitung mulai 5 Agustus 2026 hingga 5 Agustus 2027. Langkah ini diambil guna mendukung pelaksanaan proyek pemugaran tahap kedua yang menyasar perbaikan struktur bangunan utama candi.

Mengawali proses pemugaran tersebut, jajaran pengelola bersama berbagai unsur masyarakat menggelar acara doa bersama pada Jumat (7/8/2026). Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan Museum dan Cagar Budaya (MCB), Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X, aparat keamanan, tokoh masyarakat, hingga perwakilan pedagang setempat. Acara diakhiri dengan pemotongan tumpeng oleh sesepuh adat dan biksu yang diserahkan kepada perwakilan pekerja sebagai simbol permohonan keselamatan dan kelancaran selama pemugaran berlangsung.

Kepala BPK Wilayah X, Riris Purbasari, menjelaskan bahwa pemugaran tahap kedua ini merupakan kelanjutan dari tahap pertama untuk menangani masalah utama bangunan candi, yaitu kebocoran air serta dinding yang menggembung.

“Pemugaran Candi Mendut tahap kedua ini meneruskan dari tahap pertama untuk mengatasi kebocoran. Kemudian ada bagian dinding yang agak menggembung. Tujuan pemugaran ini untuk mengatasi hal-hal tersebut,” ujar Riris.

Menurut Riris, air yang merembes dari bagian atap hingga masuk ke bilik candi menjadi pemicu utama kerusakan. Tekanan air yang tersimpan di dalam tubuh candi menyebabkan dinding terlihat melengkung atau menggembung. Kerusakan tersebut harus segera ditangani agar tidak memicu pelapukan batu akibat kelembapan tinggi.

Teknis pengerjaan dimulai dari pembongkaran lapisan semen pada konstruksi atap lama yang kemudian akan diganti menggunakan susunan batu asli. Dari hasil penelitian dan uji anastilosis (susun coba) pada tahap sebelumnya, ditemukan sejumlah batu stupa kecil serta struktur penampil depan candi.

“Masih banyak batu-batu asli yang bisa digunakan. Teman-teman juga mempersiapkan bentuk atap karena ada beberapa temuan baru, seperti stupa-stupa kecil yang dimungkinkan berada di atap Candi Mendut,” jelasnya.

Untuk mengejar target waktu, pengerjaan pemugaran akan melibatkan 30 hingga 40 pekerja yang terdiri dari juru pugar ahli dan tenaga lokal. Pengerjaan dilakukan dengan sistem shift hingga malam hari. Meskipun alokasi waktu pemugaran mencapai satu tahun, pihak BPK mengupayakan penanganan selesai lebih cepat agar dapat digunakan saat perayaan Waisak.

“Kalau waktu kita diberi satu tahun, tapi kami upayakan nanti Waisak (sekitar Mei) sudah bisa digunakan kembali. Kami mohon doa restu dari seluruh masyarakat agar pekerjaan berjalan lancar,” tambah Riris.

Selama masa pemugaran, kawasan Candi Mendut dinyatakan steril (clear area) dan ditutup 100 persen untuk pemanfaatan umum maupun ibadah demi alasan keselamatan.

Sementara itu, Koordinator MCB Warisan Dunia, Wiwit Kasiyati, menyampaikan bahwa setelah proses pemugaran selesai, Candi Mendut akan tampil lebih anggun dengan terpasangnya stupa atap dan struktur penampil depan yang baru ditemukan. MCB juga berencana mengoptimalkan pemanfaatan candi melalui kerja sama dengan Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga.

“Setelah selesai dipugar, bentuk fisiknya akan ada perubahan karena stupa di atas dan bagian penampil depan akan terpasang sehingga nampak lebih cantik,” kata Wiwit.

Wiwit menambahkan, ke depan kawasan Candi Mendut disiapkan untuk kunjungan hingga malam hari dengan mengaktifkan kembali fasilitas sorot lampu (sound and light). Namun, akses fisik ke atas struktur candi tetap akan dibatasi ketat guna menjaga kelestarian cagar budaya warisan dunia tersebut.

“Untuk kunjungan sampai malam hari akan kami siapkan. Kami sebenarnya sudah punya instalasi lampu sound and light, nanti akan kami perbaiki. Tapi kalau untuk masuk ke struktur bangunan candi, mungkin tidak diperbolehkan demi menjaga kelestarian warisan dunia ini,” pungkas Wiwit.

Terkait skema kompensasi dan penataan bagi para pedagang yang terdampak penutupan kawasan selama satu tahun, pihak pengelola dan Pemkab Magelang saat ini tengah melakukan koordinasi intensif bersama perwakilan pedagang guna merumuskan kesepakatan terbaik. (nadhifa4wartamagelang,wq)

CATEGORIES
Share This