Semarak Tidar International Conference: Kala Seni Pegunungan dan Kolaborasi Global Menyatu di Untidar

Perhelatan Eco-Cultural Art Performance pada Tidar International Conference, di GKU Suparsono Universitas Tidar (Untidar) pada Rabu (22/7/2026). Foto: nadhifa4wartamagelang.com
MAGELANG (wartamagelang.com) — Suasana Gedung Kuliah Umum (GKU) Suparsono Universitas Tidar (Untidar) mendadak riuh dan meriah pada Rabu (22/7/2026). Dalam perhelatan Tidar International Conference, panggung seminar akademik bertransformasi menjadi ruang ekspresi budaya lewat pementasan bertajuk Eco-Cultural Art Performance.
Pertunjukan tersebut menampilkan kolaborasi unik antara seniman Komunitas Lima Gunung dengan seniman mancanegara asal Polandia dan Australia. Perpaduan tari, musik, puisi, hingga lagu disajikan secara dinamis. Puncaknya, seluruh panelis internasional—termasuk akademisi dari Thailand, bersama tamu undangan diajak turun ke panggung menari bersama sambil memukul kentongan diiringi alunan musik truntung.
Konferensi internasional ini mengusung tema “Mountain Ecosystem Conservation: Integrating Entrepreneurship and Culture”, yang sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan Dies Natalis ke-47 Universitas Tidar.
Perwakilan tokoh Komunitas Lima Gunung, Sih Agung Prasetya, menyampaikan bahwa kehadiran mereka merupakan bentuk silaturahmi sekaligus dukungan moril turut berbahagia (ndherek mangayubagya) untuk Untidar. Mereka membawa pesan dan spirit kehidupan masyarakat lereng gunung.
“Kita mencoba memberikan spirit pegunungan bagi Untidar. Misalnya tentang erupsi, jangan dipandang hanya sebagai bencana, tetapi ada keberkahan dan kesuburannya,” ujar Sih Agung.
Ia menekankan pentingnya menjaga semangat persatuan di tengah perbedaan latar belakang disiplin ilmu di lingkungan kampus. Lebih lanjut, Sih Agung juga menyoroti kebetulan angka usia ke-47 kampus tersebut.
“Kalau 4 ditambah 7 itu kan 11 (sawelas). Dalam bahasa Jawa, sewelash itu bermakna mendapatkan kawelasan (belas kasih) dari Gusti Kang Maha Kuwasa. Semoga Untidar tetap lestari dan jaya,” tambahnya.
Rektor Universitas Tidar, Sugiyarto, menyambut hangat kolaborasi lintas budaya ini. Menurutnya, pementasan seni tradisional yang dikemas secara kontemporer menjadi terobosan metodologi pembelajaran yang menyegarkan agar kampus tidak melakoni pendekatan yang kaku (academic minded).
“Ini simbolis kita membaurkan diri. Dalam istilah Jawa ada semangat ajur-ajer. Edukasi konvensional bukan satu-satunya jalan; melalui pendekatan visual dan seni, pesan pembelajaran justru menjadi sangat membekas,” ungkap Sugiyarto.
Ia menyoroti bahwa strategi visualisasi dan potongan konten seni yang unik di era digital (viral-based) dapat menjadi sarana ampuh untuk memperkenalkan Untidar hingga ke kancah global.
“Jaringan Komunitas Lima Gunung ini sangat luas, bahkan mencakup mancanegara. Dengan sentuhan seni yang unik, masyarakat luas hingga luar negeri bisa mengenal Untidar. Siapa tahu ke depan orang Eropa yang mau belajar budaya tidak hanya ke Jogja, tapi datang ke Untidar,” jelasnya optimis.
Menanggapi tantangan dari praktisi budaya Tanto Mendut terkait interaksi budaya yang lebih intensif di kampus, Sugiyarto menyatakan pihak kampus akan meresponsnya secara bertahap dan evolutif.
Ia menilai pertunjukan ini selaras dengan pilar utama pengembangan Untidar, yakni pengintegrasian antara kewirausahaan, kebudayaan, serta inovasi akademik.
“Acara ini menyampaikan pesan keberagaman. Bagaimana kegaduhan atau perbedaan itu sebetulnya adalah satu kesatuan (unity) yang bisa diharmonisasi jika kita pandai membacanya. Kebudayaan dan kewirausahaan adalah pilar kami, dengan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai alat pengembangannya,” pungkas Rektor. (nadhifa4wartamagelang) (wq)
