“Recoin”, ATM Botol Sampah Inovasi Warga Magelang, Ubah Botol Plastik Jadi Uang Digital

ATM Botol Sampah bernama Recoin, sebuah mesin yang memungkinkan masyarakat menukarkan botol plastik bekas menjadi saldo uang digital. foto: Anis4wartamagelang.com
MAGELANG (wartamagelang.com) — Berawal dari keprihatinan melihat banyaknya botol plastik yang berakhir di tempat sampah, Ben Swarna Sugi (36), warga Dukuh RT 03/RW 03, Kelurahan Magelang, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, menciptakan ATM Botol Sampah bernama Recoin, sebuah mesin yang memungkinkan masyarakat menukarkan botol plastik bekas menjadi saldo uang digital.
Mesin setinggi sekitar 130 sentimeter dengan lebar 60 sentimeter dan panjang 70 sentimeter itu ditempatkan di depan rumah Ben. Pada bagian samping mesin terdapat tulisan “Mesin Tukar Sampah Botol Jadi Uang” disertai petunjuk penggunaan melalui pemindaian kode QR menggunakan telepon seluler.
Menurut Ben, inovasi tersebut terinspirasi dari kebiasaannya saat bekerja di bidang kebersihan lingkungan. Ia melihat sebagian besar sampah rumah tangga masih didominasi botol plastik yang sebenarnya memiliki nilai ekonomi, namun tidak terkumpul karena jumlahnya sedikit di setiap rumah.
“Ketika saya bekerja di bagian kebersihan kampung, hampir di setiap lima tong sampah warga, dua di antaranya berisi botol plastik. Memang sudah ada bank sampah, tetapi banyak warga enggan menyimpannya karena setiap hari hanya menghasilkan dua sampai tiga botol. Kalau disimpan di rumah justru terasa seperti memindahkan sampah ke dalam rumah,” kata Ben.
Dari pengamatan tersebut muncul gagasan agar botol plastik dapat langsung ditukarkan satu per satu menjadi uang tanpa harus menunggu terkumpul dalam jumlah banyak. Setelah melakukan riset melalui internet, Ben menemukan konsep Reverse Vending Machine (RVM) yang telah banyak diterapkan di sejumlah negara, kemudian mengembangkan versi yang lebih sederhana dan terjangkau agar dapat digunakan di tingkat lingkungan RW.
“Mesin seperti ini di luar negeri sudah cukup populer. Saya mencoba membuat versi yang lebih ekonomis sehingga memungkinkan diterapkan di lingkungan masyarakat dengan biaya yang jauh lebih terjangkau,” ujarnya.
ATM Sampah Recoin bekerja menggunakan kombinasi perangkat keras dan perangkat lunak. Mesin tersebut menggunakan mikrokontroler ESP32 sebagai pusat kendali yang dipadukan dengan empat sensor ultrasonik, sensor jarak, motor servo, serta sensor pendeteksi kapasitas tangki penyimpanan. Sementara sistem perangkat lunaknya dibangun menggunakan pemrograman berbasis Arduino dan aplikasi berbasis web yang berfungsi memantau operasional mesin.
Tidak hanya menghitung jumlah botol yang disetor, sistem juga menghitung estimasi emisi karbon yang berhasil dicegah dari botol plastik yang dikumpulkan dan menampilkannya dalam bentuk laporan.
Cara penggunaannya pun cukup sederhana. Warga terlebih dahulu memindai kode QR menggunakan telepon seluler untuk melakukan pendaftaran akun dengan memasukkan nomor telepon dan kata sandi. Setelah berhasil masuk ke sistem, pengguna tinggal memasukkan botol plastik ke dalam mesin. Sensor akan mendeteksi botol, kemudian secara otomatis menambahkan saldo ke akun digital pengguna.
“Datang, scan menggunakan HP, nanti muncul tautan pendaftaran. Masukkan nomor telepon dan kata sandi, setelah itu langsung login. Ketika botol dimasukkan, sensor akan mendeteksi dan saldo digital otomatis masuk ke akun pengguna,” jelas Ben.
Setiap botol plastik yang berhasil disetorkan dihargai Rp50. Saldo digital tersebut dapat dicairkan setelah mencapai minimal Rp5.000.
Ben menjelaskan, satu unit ATM Sampah Recoin memiliki kapasitas penyimpanan sekitar empat kilogram botol plastik dengan biaya pembuatan sekitar Rp2,5 juta. Harga tersebut diharapkan cukup terjangkau untuk diterapkan di tingkat RW maupun desa.
Meski masih dikembangkan secara mandiri, Ben mengaku belum menemukan kendala teknis yang berarti. Tantangan terbesar justru terletak pada keterbatasan sumber daya agar inovasi tersebut dapat diproduksi dan diterapkan lebih luas.
“Tujuan utama mesin ini adalah mengubah perilaku masyarakat. Mengubah kebiasaan itu tidak mudah, jadi kami tidak masalah jika harus sedikit berkorban di awal. Harapan saya setiap RW atau desa nantinya memiliki satu mesin seperti ini sehingga masyarakat tidak lagi membuang botol plastik sembarangan karena satu botol pun sekarang sudah memiliki nilai ekonomi,” pungkasnya. (anis4wq)
