KSS3G Temanggung Gelar Pentas Sastra, Suarakan Kritik atas Kerusakan Lingkungan

foto: Anis4wartamagelang.com

Pentas seni bertajuk “Ketika Progo Mengering, Sastra Harus Bicara” di Taman Kali Progo, Temanggung, Minggu (28/6/2026), foto: Anis4wartamagelang.com

TEMANGGUNG (wartamagelang.com) – Keprihatinan terhadap semakin rusaknya lingkungan hidup disuarakan melalui panggung sastra. Komunitas Studi Sastra Tiga Gunung (KSS3G) Temanggung menggelar pentas seni bertajuk “Ketika Progo Mengering, Sastra Harus Bicara” di Taman Kali Progo, Temanggung, Minggu (28/6/2026), sebagai bagian dari peringatan Hari Lingkungan Hidup.

Beragam pertunjukan, mulai dari pembacaan puisi, cerpen, pantomim hingga teater, dipentaskan sebagai media refleksi sekaligus kritik terhadap persoalan lingkungan, seperti kerusakan ekosistem, pencemaran, perubahan iklim, hingga eksploitasi alam yang semakin mengkhawatirkan.

Kegiatan tersebut melibatkan berbagai kalangan, mulai dari guru, seniman, aktivis lingkungan, mahasiswa, hingga pelajar. Seluruh peserta menyampaikan kegelisahan yang sama melalui karya sastra dan pertunjukan seni.

Ketua KSS3G Temanggung, Asrul Sanie, mengatakan momentum Bulan Lingkungan Hidup dipilih agar masyarakat kembali menaruh perhatian terhadap kondisi alam yang terus mengalami degradasi.

“Maksud dan tujuannya untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup. Kemudian sambil kita menengok kembali alam kita seperti apa. Hari-hari ini ekosistem rusak, polusi, perubahan iklim, dan bencana sering terjadi di sekitar kita. Ini adalah langkah kecil kita sebagai wujud perhatian kepada alam,” ujar Asrul.

Menurutnya, sastra memiliki peran penting sebagai media penyadaran sosial karena mampu mengajak masyarakat merenungkan hubungan manusia dengan alam.

“Sastra adalah cara kita menyikapi kehidupan. Kebetulan bulan Juni merupakan Bulan Lingkungan Hidup, sehingga tema ini sangat relevan. Harapannya masyarakat semakin menyadari bahwa lingkungan kita sedang mengalami kerusakan dan menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaganya,” tambahnya.

Pesan pelestarian lingkungan disampaikan melalui berbagai karya yang ditampilkan. Salah satunya puisi “Tanah Hutan Hanya Warisan cerita” yang dibacakan Angelina Meisa, peserta berdarah Papua. Puisi tersebut menggambarkan luka akibat kerusakan hutan di Papua dan terinspirasi dari kisah yang didengar langsung dari ayahnya yang hingga kini masih tinggal di Papua.

Kritik terhadap eksploitasi alam juga hadir dalam pembacaan cerpen “Kalang Kabut” karya Bayu Tholafudin. Cerita tersebut mengisahkan seorang pekebun karet yang mengeksploitasi lahan secara berlebihan hingga menimbulkan kerusakan lingkungan. Sementara itu, puisi satir “Sumpah Serapah Sampah” karya Adi menyentil rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah.

Isu lingkungan semakin kuat melalui pertunjukan Teater Hayat yang membawakan naskah “Kerakusan Penyebab Kerusakan” garapan sutradara Christanta. Pertunjukan tersebut mengangkat tema keserakahan manusia sebagai penyebab utama rusaknya keseimbangan alam.

Tak hanya seniman, pelajar juga turut ambil bagian. Rafa dan Kevin, siswa kelas VIII B SMP Negeri 3 Temanggung, mementaskan pantomim berjudul “Aku dan Lautan” di bawah bimbingan pelatih teater Nela Nur Musoha.

Drama tersebut mengisahkan dua remaja yang menemukan pantai tempat mereka bermain dipenuhi sampah plastik. Saat berupaya membersihkan laut dan menyelamatkan seekor penyu yang terjerat jaring, salah satu tokoh justru ikut terjebak sebelum akhirnya berhasil diselamatkan temannya. Kisah itu menyampaikan pesan bahwa kelestarian laut hanya dapat terjaga apabila manusia menghentikan kebiasaan membuang sampah sembarangan.

Digelar di ruang terbuka Taman Kali Progo, pentas sastra tersebut menarik perhatian masyarakat yang sedang beraktivitas di sekitar lokasi. Melalui kolaborasi sastra, teater, dan seni pertunjukan, KSS3G berharap pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan dapat diterima lebih luas dan menggugah kesadaran masyarakat bahwa penyelamatan bumi merupakan tanggung jawab bersama. (anis4wq)

CATEGORIES
Share This