Seragam Training dan Pendidikan di Tengah Jurang Sosial
Seragam Training dan Pendidikan di Tengah Jurang Sosial
Oleh: Azis Subekti *
Setiap pagi, di banyak sekolah di China, anak-anak melangkah masuk gerbang sekolah dengan pakaian yang sama: seragam training olahraga. Pemandangan itu sering dianggap sederhana, bahkan kaku. Namun di balik kesederhanaannya, terdapat sebuah pilihan pendidikan yang bekerja secara diam-diam—membentuk cara anak memandang diri dan orang lain sejak usia dini.
Seragam itu bukan urusan selera. Ia adalah keputusan nilai. Negara menempatkan sekolah sebagai ruang jeda dari dunia luar yang penuh perbedaan kelas. Di dalamnya, latar belakang ekonomi dipaksa tidak berbicara. Anak-anak hadir sebagai murid, bukan sebagai representasi kemampuan beli keluarganya.
China memahami bahwa ketimpangan sosial jarang tumbuh tiba-tiba. Ia tumbuh pelan, lewat simbol-simbol kecil yang dinormalisasi: sepatu, tas, merek pakaian, potongan seragam. Maka yang dikendalikan bukan hanya perilaku, tetapi juga simbol. Seragam training menjadi pagar sunyi agar anak-anak tidak belajar membandingkan diri terlalu dini—sebelum mereka cukup matang memahami struktur sosial secara kritis.
Pilihan itu juga mencerminkan pandangan tentang pendidikan yang utuh. Belajar tidak dipisahkan dari tubuh. Hari sekolah yang panjang menuntut kesiapan fisik dan mental sekaligus. Senam pagi dan olahraga bukan selingan, melainkan bagian dari ritme belajar. Murid harus siap berpikir dan bergerak dalam satu tarikan napas. Pakaian yang membatasi gerak dianggap tidak sejalan dengan tujuan itu.
Indonesia tentu tidak berada dalam konteks yang sama. Kita memiliki keragaman budaya, sejarah, dan tradisi sekolah yang khas. Namun hari ini, pendidikan kita dihadapkan pada persoalan yang semakin nyata: jurang sosial yang masuk hingga ke ruang kelas. Perbedaan sekolah negeri dan swasta, kota dan desa, pusat dan pinggiran, tak lagi hanya soal kualitas fasilitas, tetapi juga soal simbol dan citra sosial.
Di banyak sekolah, terutama di perkotaan, anak-anak sejak dini belajar membaca kelas sosial—bukan dari buku pelajaran, melainkan dari penampilan. Seragam yang seharusnya menyamakan justru kerap menjadi medium pembeda: kualitas kain, atribut tambahan, hingga perlengkapan penunjang. Sekolah tanpa sadar menjadi ruang pertama tempat anak berlatih membandingkan diri dan merasa “kurang” atau “lebih” dari yang lain.
Dalam konteks ketimpangan yang masih kuat—akses pendidikan yang belum merata, biaya sekolah yang membebani, dan mobilitas sosial yang tersendat—praktik simbolik seperti ini tidak bisa dianggap sepele. Ketika kesetaraan hanya diajarkan sebagai konsep, sementara pengalaman sehari-hari anak justru memproduksi jarak sosial, pendidikan kehilangan fungsi etiknya.
Ini bukan soal meniru China atau mengganti seragam dengan training olahraga. Pertanyaannya lebih mendasar: apa pesan yang ingin kita sampaikan lewat praktik pendidikan sehari-hari? Seragam bukan kain netral. Ia adalah kurikulum yang melekat di tubuh. Ia mengajarkan nilai bahkan ketika kita tidak menyadarinya.
Jika pendidikan ingin menjadi alat pemutus rantai ketimpangan, maka ia harus berani memeriksa ulang hal-hal yang selama ini dianggap teknis dan remeh. Kesetaraan sosial tidak cukup diajarkan lewat pasal dan slogan. Ia harus dihadirkan dalam pengalaman konkret yang dialami anak-anak setiap hari di sekolah.
Sebab masa depan bangsa sering kali tidak dibentuk oleh kebijakan besar yang gemuruh, melainkan oleh keputusan-keputusan kecil yang konsisten—yang menentukan apakah sekolah menjadi ruang pemerdekaan, atau justru tempat pertama anak-anak belajar menerima ketimpangan sebagai sesuatu yang wajar.
*) Anggota DPR RI Fraksi Gerindra

