Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta Bersilaturahmi dengan Pelaku Serangan Umum 1 Maret 1949

Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta bersilaturahmi dengan Letda (purn) Soedarsono (nomer 3 dari kiri), pelaku Serangan Umum 1 Maret 1949 Yogyakarta, di Magelang, Jumat (21/01/2022). (Foto: Bagus Priyana)

Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta bersilaturahmi dengan Letda (purn) Soedarsono (92), pelaku Serangan Umum 1 Maret 1949 Yogyakarta, di Magelang, Jumat (21/01/2022).

Edukator museum Muhammad Rosyid Ridho mengatakan jika tujuan silaturahmi tersebut adalah menggali informasi perjuangan Soedarsono saat perjuangan fisik tahun 1945-1949 khususnya saat peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949.

“Selain itu untuk mencari benda koleksi yang terkait dengan sepak terjang Soedarsono saat masa perjuangan dulu,” ungkap Rosyid.

Rosyid menambahkan, jika nantinya Soedarsono juga akan diminta bercerita di acara pameran menyambut peringatan Serangan Umum 1 Maret 1949 di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta pada awal maret mendatang.

“Awal maret mendatang kami akan mengundang beliau ke Yogya,” imbuh Rosyid.

Soedarsono yang lahir di Yogyakarta 29 Juni 1930 adalah purnawirawan TNI AD dengan pangkat terakhir Letnan Dua dengan NRP 217792. Soedarsono berdinas terakhir di Batalyon Kavaleri 2/Serbu Dam VII/Diponegoro yang bermarkas di Magelang.

Soedarsono yang kini tinggal di Kampung Jambon Kidul no. 364, Kel. Cacaban Kota Magelang ini menjadi prajurit di Yogyakarta pada tahun 1945, usai Proklamasi kemerdekaan RI.

Pada tahun 1946 Soedarsono menjadi anggota Laskar Rakyat Tetap yang menjadi bagian dari TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Pada tahun 1947-1948 menjadi anggota Pasukan Istimewa Garnizun di Yogyakarta yang menjadi bagian dari TRI (Tentara Republik Indonesia) dan berikutnya menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia).

Dengan demikian, Soedarsono menjadi perintis dan pelaku pembentukan BKR, TKR, TRI dan TNI.

Soedarsono memiliki pengalaman bertempur yang sangat mumpuni. Misalnya saja ia pernah terlibat pertempuran dengan Belanda di Semarang kala Belanda mengadakan Agresi Militer I pada 21 Juli 1947.

Munculnya agresi tersebut merupakan dampak dari pertentangan antara Indonesia dengan Belanda akhirnya semakin memuncak.

“Saya bertempur di wilayah Semarang, saya dikirim dari Jogja,” ujarnya.

Soedarsono pun pernah terlibat menghadapi Belanda saat Agresi Militer II pada 19 Desember 1948 saat Belanda menyerbu dan menguasai ibukota RI Yogyakarta.

Akibat serbuan Belanda tersebut, pemerintah sipil maupun militer menjadi kacau. Untuk membuktikan kepada dunia bahwa RI masa ada, para pejuang melancarkan Serangan Umum 1 Maret 1949 yang mampu menguasai Yogyakarta selama 6 jam.

Soedarsono bergabung ke dalam Pasukan Gerilyawan di KMK (Komando Militer Kota) pada kesatuan SWK 101/WK III di bawah komandan SWK/Sub Wehkreis 101 Kapten Marsoedi dan komandan WK/Wehkreis III Letkol Soeharto.

WK III meliputi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sedangkan SWK 101 meliputi dalam kota Yogyakarta.

“Tugas saya adalah bertahan di dalam kota dengan melakukan aksi pemasangan pamflet, teror ke pos-pos Belanda, bersih-bersih mata-mata Belanda dan pengadaan dapur umum menjelang Serangan Umum 1 Maret 1949,” katanya.

Saat itu, kala Yogyakarta dikuasai oleh Belanda, Soedarsono bertahan di tengah kota selama 4 bulan. Hanya tentara pilihan yang ditempatkan di dalam kota yang dikuasai musuh. Ia pun pernah bertemu dengan pejuang legendaris Komarudin.

“Komarudin itu pejuang nekat, hampir mati dia ditembak Belanda sebelum Serangan Umum 1 Maret 1949,” ujarnya.

Dengan berbekal pistol dan granat, Soedarsono dan kawan pejuang yang lainnya, melakukan teror kepada Belanda, tujuannya adalah untuk menurunkan moril Belanda.

“Ini penting, biar moril Belanda turun,” katanya.

Letda (purn) Soedarsono dengan foto diri saat masih berdinas. (Foto: Bagus Priyana)

Soedarsono pun menunjukkan baju safari seragam veteran yang dipenuhi dengan lencana penghargaan di sisi kiri.

“Yang warna merah ini menunjukkan pertempuran berdarah,” ungkapnya.

Sementara itu Soedarsono mengucapkan terima kasih atas kunjungan dari Museum Benteng Vredeburg tersebut.

“Saya mengucapkan terima kasih atas kunjungan dan undangannya. Semoga masih diberi kesehatan dan umur panjang dan bisa hadir di museum tersebut,” pungkas Soedarsono. (bgs)

CATEGORIES
Share This

COMMENTS

Wordpress (1)
  • comment-avatar
    Regi Rastafara 2 bulan

    Terakhir kesana pas SMP wkwk… Nitip jejak ya kak, mampir ke blogku yuk Website JogjaKita. Ngajakin juga nih kalo ada orang jogja boleh banget buat download aplikasi ojek online asli Jogja namanya JogjaKita