Kenaikan Cukai Rokok, Upaya Kesejahteraan Petani Tembakau

DUKUNG CUKAI : Ketua Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) Restno Rusdijati menyatakan mendukung kenaikan harga cukai rokok (Istimewa)

MAGELANG – Adanya kenaikan cukai rokok didukung penuh oleh Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA). Pasalnya, kenaikan ini sebagai upaya peningkatan kesejahteraan petani.

Hal ini disampaikan Ketua MTCC UNIMMA Retno Rusdjijati, Jum’at (18/09/2020) usai jumpa pers. Menurut Retno, sudah seharusnya, Dana Bagi Hasil Cukai Hasil tembakau (DBHCHT) kembali kepada pemangku kepentingan. Juga sudah seharusnya peruntukan lebih fokus untuk petani dan buruh tembakau.

“MTCC UNIMMA sebagai organisasi yang concern pada kesejahteraan petani, berupaya untuk menyuarakan aspirasi petani ditengah polemik cukai. Dari petani dampingan MTCC UNIMMA, yang tergabung dalam Forum Petani Multikultur, menganalisa, masalah cukai dari perspektif alokasi pemanfaatan DBHCHT,” katanya.

Retno menggarisbawahi, dengan mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 7 Tahun 2020, alokasi DBHCHT tersebut digunakan dalam lima kegiatan. Diantaranya, kata Retno, meliputi peningkatan kualitas bahan baku, pembinaan Industri, pembinaan lingkungan sosial, sosialisasi kebutuhan di bidang cukai, dan pemberantasan barang cukai ilegal.

“Penerimaan cukai merupakan kontributor ketiga terbesar dalam penerimaan dalam negeri, dimana 95 persen berasal dari Cukai Hasil Tembakau (CHT),” imbuhnya.

Retno menegaskan, Menteri Keuangan Sri Mulyani sendiri telah mengeluarkan PMK Nomor 152/PMK.010/2019 tentang tarif cukai hasil tembakau. Dalam aturan ini, kata Retno, pemerintah akan menaikkan cukai rata-rata mencapai 21,55% mulai Januari 2020.

Dengan demikian, tarif cukai sudah mengalami kenaikan 73,53 persen sejak tahun 2015 hingga awal tahun 2020. Fakta inilah yang memunculkan polemik di semua media. Cukai selalu dikaitkan dengan pernyataan terkait peran Industri Hasil Tembakau (IHT) yang sangat strategis, sehingga selalu muncul polemik yang berkepanjangan.

“CHT justru lebih berorientasi pencapaian target penerimaan, daripada pengendalian atau pembatasan konsumsi rokok dan upaya peningkatan kesejahteraan petani,” tandasnya.

Retno menuturkan, petani tembakau hingga sekarang selalu dirugikan. Bahkan harga tembakau tahun 2020, kata Retno, dinyatakan petani sebagai harga terburuk selama 10 tahun terakhir. Demikian juga petani multikultur, harga panen sayuran berbagai jenis sangat rendah, menunjukkan bahwa belum ada dukungan kebijakan yang sinergis untuk peningkatan kesejahteraan petani (coi/aha)

CATEGORIES
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)