Grebeg Getuk 2026 di Alun-Alun Magelang Berlangsung Meriah

Foto: Humas Prokompim Kota Magelang

Prosesi Grebeg Getuk di Alun-alun Kota Magelang, Minggu (12/4/2026). Foto: Humas Prokompim Kota Magelang

KOTA MAGELANG (wartamagelang.com)  – Puncak perayaan Hari Jadi ke-1120 Kota Magelang berlangsung meriah dalam prosesi Grebeg Getuk yang digelar di Alun-alun Kota Magelang, Minggu (12/4/2026). Tradisi tahunan ini menjadi wujud rasa syukur sekaligus simbol kearifan lokal masyarakat Magelang.

Rangkaian acara dimulai dengan prosesi fragmen di Pendopo Mantyasih—situs cikal bakal Kota Magelang—yang dilanjutkan dengan kirab budaya menuju Alun-alun.

Menariknya, tahun ini rute kirab disesuaikan lebih efisien dengan memanfaatkan Pendopo Alun-alun yang baru.

Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono, menegaskan perubahan dalam prosesi merupakan langkah inovasi tanpa meninggalkan nilai historis.

“Inovasi itu perlu agar tradisi tetap relevan, namun pakem sejarah harus tetap kita jaga,” tegas Damar.

Panitia menyediakan dua gunungan utama, yakni Gunungan Jaler (Laki-laki) dan Gunungan Estri (Perempuan), yang terdiri dari sekitar 1.120 buah gethuk dengan total berat mencapai 300 kilogram. Angka ini secara khusus melambangkan usia Kota Magelang.

Menurut panitia sekaligus sutradara Grebeg Gethuk, Tri Setyo Nugroho, pemilihan gethuk merepresentasikan kesederhanaan dan kekuatan ekonomi rakyat.

Selain dua gunungan utama, 17 kelurahan turut membawa gunungan berisi hasil bumi dan produk ekonomi kreatif masing-masing.

Sebelum warga memperebutkan gunungan, suasana diperkuat dengan pementasan sendratari kolosal “Babar Mahardika”. Pertunjukan yang melibatkan 250 penari ini mengisahkan sejarah Magelang pada abad ke-9.

Kepala Disdikbud Kota Magelang, Nurwiyono Slamet Nugroho, menambahkan efisiensi waktu dilakukan agar pesan sejarah dalam pertunjukan dapat diterima lebih baik oleh masyarakat.

Suasana mencapai puncak saat Wali Kota memberikan aba-aba. Ribuan warga langsung menyerbu gunungan gethuk dan hasil bumi.

Tradisi ini dianggap masyarakat sebagai momen “kembul bujono” atau makan bersama sebagai ungkapan syukur atas kesejahteraan yang dinikmati seluruh warga Kota Magelang. (wq)

CATEGORIES
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)